Make A Delicious Ones

Food, Love and Passion

Breaking News

Showing posts with label pagaralam. Show all posts
Showing posts with label pagaralam. Show all posts

Thursday, November 15, 2018

November 15, 2018

Jalan - Jalan Yuk! : Tikungan Kekinian Kebun Teh Gunung Dempo, Pagaralam


Tikungan Kekinian Kebun Teh Gunung Dempo, Pagaralam



Tikungan Kekinian berlokasi di kawasan perkebunan Teh Kampung II, jalan menuju objek wisata Tugu Rimau, juga menjadi magnet baru wisatawan, yang berkunjung ke Pagaralam. Di pinggiran jalan memiliki kelokan tajam, wisatawan kerap menyempatkan waktu, untuk sekedar berfoto selfi dan mengabadikan momen berharga.



November 15, 2018

Sejarah : Masjid Agung Pagaralam, Sumatra Selatan

Masjid Agung Pagaralam

Di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Sholat berjamaah bisa dilakukan di masjid-masjid terdekat. Ada beberapa masjid ternama di Kota Pagar Alam seperti Masjid Agung Pagar Alam, Masjid Baiturrahman, dan Masjid Al-ikhlas. 

Yang pertama adalah Masjid Agung Pagar Alam. Masjid tersebut dibuat pada tahun 2000. Sesuai data dari Kementerian Agama masjid tersebut merupakan Masjid Agung. Jumlah daya tampung masjid ini sebanyak 150 - 200 orang. Masjid Agung Pagar Alam ini bisa ditemukan di Jl. Kombes H.Umar, Bangun Jaya.




Sunday, November 11, 2018

November 11, 2018

Jalan - Jalan Yuk! : Dempo Park, Pagaralam, Sumatra Selatan.



Dempo Park

Bisa ditempuh sekitar delapan kilometer dari Pusat Kota Pagar Alam, keberadaan tepatnya ada di Kelurahan Dempo Makmur, Sub-Distrik Pagar Alam Utara. Tempat wisata alternatif ini buka 24 jam setiap harinya. Meskipun begitu, waktu yang paling ramai adalah sore hari mulai pukul 15.00 WIB sampai menjelang maghrib.


Dempo Park




Dempo Park
Kehadiran Taman Dempo ini menambah keindahan Kota Pagar Alam. Dengan latar belakang Gunung Dempo, yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke sini. Di sini, udara pegunungannya sangat menyejukan dan banyak taman bermain anak-anak serta tempat-tempat instagramable.


Dempo Park
Kawasan Wisata Dempo Park menambah keindahan Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Udara pegunungan dan banyaknya wahana permainan anak serta spot yang instagenic dengan latar Gunung Dempo menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke tempat ini.

Dempo Park
Dempo Park


Tiket masuk ke Dempo Park sebesar Rp. 2.500 per orang. Ada beberapa spot foto yang mengenakan biaya tambahan sebesar Rp. 5.000 per lokasi, seperti spot foto berbentuk hati dengan latar Bukit Barisan.

Dempo Park yang berlokasi di Dempio Makmur, Pagar Alam Utara, dan hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari Kota Pagar Alam ini menjadi nilai tambah tersendiri. Dengan tarif yang relatif murah dan jarak yang tak terlalu jauh dari pusat kota, maka tak heran jika tempat ini sangat ramai dikunjungi.

Dempo Park



November 11, 2018

Jalan - Jalan Yuk! : 7 Air Terjun (Cughup) Paling Hits di Pagaralam (Sumatra Selatan)

Dengan luas sekitar 633,66 km, Pagar Alam sendiri adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Kota ini berjarak sekitar 60 km barat daya Kabupaten Lahat dan sekitar 298 km dari Kota Palembang yang terkenal dengan empek-empek makanan khas Palembang, Jembatan Ampera atau Sungai Musi.
Oh iya, untuk diketahui, Kota Pagar Alam terkenal dengan julukan "Kota 1000 Air Terjun", terbukti banyak sekali air terjun atau yang kata masyarakat sekitar menyebutnya cughup / curup. Nah,lalu air terjun apa saja yang sayang dilewatkan jika berada di Kota Pagar Alam?

1. Air Terjun Besemah Mingkik
Air Terjun Besemah Mingkik

Berjarak sekitar 25 km dari Kota Pagar Alam, keberadaan air terjun ini tepatnya ada di Kelurahan Atung Bungsu, Desa Mingkik, Kecamatan Dempo Selatan, Pagar Alam. Dengan ketinggian air terjun sekitar 100 m, kita bisa menikmati keindahan panorama sekeliling yang indah dan dari air yang terjun bebas. Selain itu, angin segar dan udara sejuk serta hutan yang alami akan mendamaikan suasana hati.

2. Air Terjun Embun
Air Terjun Embun

Air terjun ini memiliki pesona alam yang indah. Terletak di sebelah timur kaki Gunung Dempo, tepatnya ada di Keluarahan Curup Jare, Desa Dempo Makmur, Kecamatan Pagar Alam Utara, Pagar Alam. Untuk sampai lokasi, jika berangkat dari Kota Pagar Alam hanya sekitar 15-20 menit. Untuk menuju ke air terjun, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga. Tetapi, rasa lelah tergantikan dengan persembahan alami yang mempesona yang ada di sini.
Tinggi air terjunnya sekitar 80 m dengan intensitas air yang tidak begitu deras dan hal itu menjadikan kolam yang terbuat secara alami dapat digunakan oleh pengunjung untuk berenang dan menikmati kelembapan air yang jatuh dari tepi tebing.
Selain itu, ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan oleh pengunjung ketika mengunjungi tempat ini, seperti bersantai di pondok-pondok di tepi sungai dan juga dapat menikmati air pegunungan yang mengalir di sepanjang sungai.

3. Air Terjun Lematang Indah
Air Terjun Lematang Indah

Air terjun ini terletak di Kecamatan Dempo Utara, Pagar Alam. Dengan ketinggian sekitar 40 m dan pancurannya yang hanya setinggi sekitar 20 m, keistimewaan yang dimiliki air terjun ini adalah keterjangkauan lokasinya yang mudah diakses. Jadi, tidak heran jika Air Terjun Lematang Indah adalah salah satu lokasi wisata yang paling banyak dikunjungi.
Di sini, kita dapat melakukan aktifitas bermain arung jeram sepanjang 50 m. Uniknya, ketika bermain arung jeram, kita akan melewati sebuah penderesan seperti air terjun yang airnya langsung jatuh ke sungai dengan aliran deras dan berkedalaman lebih dari dua meter. Maka dari itu, pengunjung tidak diizinkan berenang di area penderesan tersebut.
Meskipun begitu, kita masih dapat menikmati panorama alam yang masih begitu alami.

4. Air Terjun Mangkok
Air Terjun Mangkok

Air Terjun Mangkok atau sering disebut Curup Pancur yang letaknya berada tepat di bawah kaki Gunung Dempo, Desa Dempo Makmur, Kecamatan Pagar Alam Utara, Pagar Alam adalah salah satu wisata air terjun di Pagar Alam yang memiliki ketinggian sekitar 100 m. Sehingga, aliran yang dihasilkan mirip dengan pancuran raksasa dan airnya sangat dingin.
Lokasinya yang masih begitu indah, menyebabkan tempat ini sering digunakan sebagai tempat tujuan berlibur bagi banyak orang.

5. Air Terjun Maung
Air Terjun Maung

Air terjun yang berlokasi di Kelurahan Atung Bungsu, Desa Mingkik, Kecamatan Dempo Selatan, Pagar Alam ini adalah pilihan untuk menghabiskan liburan yang menyenangkan. Air Terjun Maung akan banyak dikunjungi pengunjung lokal dan pelancong dari seluruh pelosok nusantara untuk menghabiskan liburan akhir pekan.
Karena, air terjun ini memiliki daya tarik yang tak terelakkan. Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 80 m dengan lebar dan tinggi dinding yang sama ini memang luar biasa. Airnya dijamin jernih, alami dan segar meski di musim penghujan. Uniknya, debit airnya normal meskipun saat musim kemarau.

6. Air Terjun Pintu Langit Tanjung Taring
Air Terjun Pintu Langit

Berada di Kelurahan Burung Dinang, Desa Tanjung Taring, Kecamatan Dempo Utara, Pagar Alam, air terjun ini terbingkai apik oleh barisan bukit. Oh iya, keberadaannya juga berada di sekitar bawah kaki Gunung Dempo, jadi wajar jika air dan udaranya begitu alami, dingin, menyejukkan dan menyegarkan.
Dengan ketinggian kurang lebih 35 m, aliran airnya cukup deras. Meskipun begitu, kamu masih bisa berenang langsung di bawah air terjunnya dan merasakan pijatan alami dari air yang turun bebas.

7. Air Terjun Tujuh Kenangan
Air Terjun Tujuh Kenangan

Dengan namanya yang unik, air terjun ini terletak di Desa Dempo Makmur, Kecamatan Dempo Utara, Pagar Alam. Air terjun yang indah ini memiliki banyak level / tingkatan dengan pancuran yang indah. Di antara level-levelnya, ada yang tertinggi.
Air terjun ini merupakan salah satu potensi wisata di Pagar Alam yang masih "perawan". Di beberapa sudut area lokasi, berbagai jenis tanaman dan batuan megalit ditemukan. Oh iya, di sini juga ada kolam renang dan peluncuran alami yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk bermain perosotan.
Intermezzo saja, dinamakan Air Terjun Tujuh Kenangan, mungkin karena jika telah berkunjung ke sini akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dan akan menjadi kenangan hidup. Terlebih jika ke air terjun ini bersama pasangan kemudian menjadi mantan.
Bagus-bagus ya semua! Kamu termasuk salah satu yang tak pernah mendengar nama Kota Pagar Alam? Kalau iya, segera ke sini deh. Dijamin gak bikin rugi!












Tuesday, May 1, 2018

May 01, 2018

Sejarah : Pagaralam Tempo Dulu

Barang siapa yang mendaki Bukit Barisan dari arah Bengkulu, kemudian menjejakkan kaki di tanah kerajaan Palembang yang begitu luas dan barang siapa yang melangkahkan kakinya dari arah utara Ampat Lawang (negeri empat gerbang) menuju ke dataran Lintang yang indah, sehingga ia mencapai kaki sebelah Barat Gunung Dempo, maka sudah pastilah ia di negeri orang Pasemah. Jika ia berjalan mengelilingi kaki gunung berapi itu, maka akan tibalah ia di sisi timur dataran tinggi yang luas yang menikung agak ke arah Tenggara, dan jika dari situ ia berjalan terus lebih ke arah Timur lagi hingga dataran tinggi itu berakhir pada sederetan pengunungan tempat, dari sisi itu, terbentuk perbatasan alami antara negeri Pasemah yang merdeka dan wilayah kekuasaan Hindia Belanda.
Tulisan diatas adalah tulisan tentang daerah tempat orang - orang Pasemah/ atau yang desebut Besemah/kota Pagaralam saat ini dituliskan oleh JSG Grambreg, seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda yang ditulisnya pada tahun 1865.
sejarah pagaralam memang begitu menarik untuk dibahas, mulai dari sejarah terbentuknya kota pagaralam,seni dan budayanya, sampai tentang orang - orang yang berpengaruh dalam budaya Besemah sendiri. kali ini saya tidak membahas tentang sejarah kota pagaralam terlalu dalam melainkan ingin melihat sisi lain kota pagaralam tempo dulu melalui photo - photo yang saya peroleh dari teman -teman di pagaralam dan dari beberapa situs website arsip belanda beberapa hari yang lalu.

Di bawah ini ada beberapa potret pagaralam tempo doeloe :

Jembatan Endikat 1949
Photo diatas adalah jembatan liku endikat di ambil pada tahun 1949 oleh seorang photagrafer belanda. dijelaskan pada situs gahetna.nl belanda, ternyata jembatan endikat sempat putus waktu itu dan di perbaiki lagi seperti terlihat pada photo di atas.



Liku endikat 1910 - 1930
Photo diatas tepatnya di Liku endikat Dusun Mingkik, Kecamatan Dempo Selatan,tepat di atas setelah melewati jembatan endikat. di dalam photo ini ada beberapa orang yang asik berpose di dekat mobil belanda, photo - photo diatas kira- kira di ambil pada tahun 1910 -1950an,kalau teman - teman wisata yang ingin berlibur ke kota pagaralam pasti akan melawati liku endikat ini karana ini jalur utama menjuh kota pagaralam.
Gunung Dempo 1921 Photographs by Christoffel Hendrik Japing
Masjid Agung Pagaralam
Tari Kebagh 1930

Tak heran, kota seluas 633 kilometer persegi ini memang menyimpan banyak potensi wisata sejarah. Di sini, Anda bisa melihat beberapa peninggalan zaman Megalitikum yang ditaksir berumur lebih dari 1.000 tahun. Beberapa tempat untuk menemukan peninggalan tersebut di antaranya areal perkebunan Dusun Atungbungsu, kebun kopi Dusun Cawang Lama, Tegur Wangi lama, Tanjung Aro, dan Mingkik.



Kunjungan Bpk Presiden Suekarno ke pagaralam pada tahun 1952 pada saat itu pagaralam masi tergabung dalam kabupaten Lahat.



Sumber : https://www.facebook.com/Kota-pagar-alam-tempo-dulu-638473846230312/

Monday, April 30, 2018

April 30, 2018

Sejarah : Puyang Awak (Syech Nurqodim al-Baharudin)

Masjid Puyang Awak di Perdipe - Pagaralam

Ada pepatah yang mengatakan : Bagai kacang lupa pada kulitnya.
Saya sebagai jeme Pagaralam asli dan keturunan langsung dari salah satu pendiri pagaralam dan penyebar agama Islam di Pagaralam, yaitu Puyang Awak (Syekh Nurqodim al-Baharudin), saya ingin coba menulis mengenai kakek buyut saya tersebut. Berikut artikelnya.
Sejarah penyebaran Agama Islam di Nusantara, sangat menarik untuk disimak. Di Pulau Jawa, kisah Wali Songo sangat mashyur. Banyak catatan dan fakta sejarah, bagaimana 9 ulama besar tersebut menyebarkan ajaran Islam secara damai. Bagaimana Islam disebarkan secara pelan-pelan, sehingga mengubah kepercayaan masyarakat Pulau Jawa saat itu yang menganut animisme dan sebagian pengaruh agama Hindu.
Lalu bagaimana penyebaran agama Islam di Tanah Besemah, Kota Pagaralam dan sekitarnya?  Siapakah pembawa dan  penyebar agama Islam pertama di dataran tinggi Gunung Dempo ini?
Berdasarkan arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah atau 1650 Masehi, telah ada seorang tokoh Ulama yang bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang bergelar Puyang Awak, yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.
Menurut buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya TG. KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14–17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang di istilahkan dalam bahasa melayu, yaitu mengayau. Mereka dengan taktik devide et impera berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M/ 1072 H, menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.
Namun, sumber lain menyebutkan bahwa seorang mubaligh dari Pulau Jawa/Mataram Kuno bernama Baharudin, menyeberang ke Pulau Sumatera lewat tanah Banten dengan menggunakan sebuah rakit yang terbuat dari pelepah kelapa, menginjakan kakinya pertama kali di ujung paling selatan pulau Sumatera, tepatnya di daerah Tanjung Tua (sekarang hanya beberapa meter saja dari Menara Suar Tanjung Tua). Beliau berjalan kaki singgah di daerah Komering menuju ke Palembang, singgah pula di daerah Enim terus menelusuri aliran sungai Lematang dan tiba di Desa Perdipe, yang terletak di tepian sungai Lematang wilayah tanah Besemah.
Di tanah Besemah, beliau menyebut dirinya Baharuddin, sedangkan sebutan Puyang Awak adalah sebutan yang diberikan masyarakat Besemah sebagai ungkapan penghormatan tertinggi yang diberikan kepada Beliau.

Silsilah Puyang Awak (Syech Nurqodim al-Baharudin)

Pertama kali Puyang Awak sampai di desa Perdipe dan menetap disana, Beliau beradaptasi sekaligus mempelajari bahasa dan pola hidup serta keyakinan yang ada di tanah Besemah waktu itu. Keberadaan Beliau pertama kali tidak menunjukan citra bahwa Beliau adalah seorang Mubaligh yang bertujuan menyebarkan ajaran baru bagi masyarakat. Di desa Perdipe ini, beliau menumpang hidup pada suatu keluarga, sambil membantu pekerjaan dalam keluarga itu, serta membantu pula terhadap siapa saja yang membutuhkan bantuan. Oleh karena sikap Beliau yang suka membantu tersebut, dalam tempo relatif singkat Beliau sudah cukup dikenal oleh sebagian masyarakat.
Sikap yang ditunjukan oleh Baharuddin terhadap semua lapisan masyarakat, besar atau kecil, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, miskin atau kaya, jelas sangat berbeda dengan perilaku atau sikap hidup masyarakat Besemah pada waktu itu, dimana ego dan ambisi begitu menonjol diantara kelompok masyarakat yang terbagi dalam 6 anak suku yakni Penjalang, Semidang, Sumbai Besar, Mangku Anom, Ulu Lurah dan Tanjung Raye. Setiap suku merasa bahwa suku merekalah yang terbaik, sehingga seringkali terjadi pertikaian. Karena sikap Beliau yang berbeda atau menyolok tersebutlah sehingga nama Beliau begitu cepat terkenal dan populer di kalangan masyarakat Besemah. (sikap yang mampu mengambil hati masyarakat banyak).
Perbuatan yang dilakukan Beliau tersebut, sebenarnya bukanlah perbuatan yang besar, melainkan hanya tindakan kecil yang kelihatannya sepele namun menyentuh hati masyarakat, misalnya : Suatu ketika Baharuddin mendengar beberapa orang perempuan yang berbicara sewaktu mereka memasak untuk suatu acara perkawinan, mereka kesulitan memperoleh daun pisang yang diperlukan untuk memasak, daun pisang habis semua, sedangkan untuk meminta bantuan kepada laki-laki adalah tidak mungkin karena dianggap tabu bila laki-laki mengerjakan pekerjaan perempuan (Gaweh Betine).
Mendengar keluh kesah para ibu tersebut, tanpa memberitahu apapun, Baharuddin langsung mengambil daun pisang yang tumbuh liar di hutan. Perbuatan Baharuddin tersebut menjadi perhatian masyarakat karena tidak lazim dilakukan oleh seorang laki-laki. Bagi kaum laki-laki, pemandangan seperti itu dianggap “memalukan” karena tidak menjaga martabat laki-laki. Lain halnya dengan para ibu yang merasa sangat dihargai dan diperhatikan oleh beliau, sehingga menorekan kesan yang mendalam dan harkat kemanuasiaan kaum ibu sedikit terangkat.
Peristiwa lain dari sikap dan perilaku Baharuddin, suatu ketika Beliau mendengar seorang ibu yang sedang hamil muda, mengidam ingin sekali maka buah petai, padahal waktu petai sedang tidak musim berbuah. Entah dari mana dapatnya, setelah bepergian sebentar Baharuddin sudah datang membawa petai yang sedang ranum dan langsung diberikan kepada ibu yang sedang ngidam tersebut. Peristiwa ini, menjadi buah bibir, yang pada pokoknya Beliau selalu datang dengan tanpa diminta untuk memberikan bantuan. Walaupun bantuan itu kecil kwalitasnya, namun besar akan nilainya. Lama kelamaan, nama Baharuddin begitu populer di kalangan masyarakat Desa Perdipe dan menyebar ke desa lainnya.
Diantara warga Besemah pada waktu itu, ada seorang tokoh yang sangat disegani dan ditakuti karena banyak nyawa melayang ditangannya, budak-budaknya pun ratusan, yang diperoleh ketika memenangkan pertarungan. Tokoh itu bernama Kejabang dari anak suku Semidang (Puyang Kejabang). Kejabang rupanya tidak senang mendengar kepopuleran nama Baharuddin, padahal hanya pendatang. Kejabang lalu bermaksud menjadikan Baharuddin sebagai budaknya. Untuk itu Kejabang menyampaikan tantangan bertarung pada Baharuddin, dengan ketentuan apabila Baharuddin menolak untuk berkelahi atau kalah maka harus menjadi budaknya Kejabang. Sebaliknya bila Baharuddin menerima dan dapat mengalahkan Kejabang, maka Kejabang dan anggota keluarganya berikut semua budaknya, akan menjadi budaknya Baharuddin.
Baharuddin yang dianggap tidak menjaga martabat laki-laki itu, menerima tantangan Kejabang dan ditentukanlah temapat pertarungan adalah di Tebat Limau ± 1 km dari Desa Perdipe. Untuk itu, Baharuddin berpesan pada Kajabang agar membekali dengan seluruh ilmu-ilmu kedigdayaan baik berupa senjata maupun jampi-jampi kesaktian milik Kejabang. Serta pertarungan tersebut harus disaksikan orang banyak sebagai saksi agar masing-masing dapat menepati janji.
Pada hari yang telah ditentukan untuk pertarungan di Tebat Limau, Baharuddin bersama-sama dengan warga Desa Perdipe yang akan menyaksikan pertarungan, harus menyeberangi sungai Lematang terlebih dahulu untuk menuju Tebat Limau. Akan tetapi sewaktu akan menyeberang, Baharuddin melihat rombongan semut hitam seperti kebingungan. Rupanya Beliau mengerti bahwa semut-semut tersebut hendak menyeberangi sungai, namun tidak ada sarana satupun untuk menyeberang, lalu Baharuddin mengambil sepotong kayu yang cukup panjang kemudian diletakkan melintang diatas sungai, sehingga bisa menjadi jembatan bagi semut-semut tersebut.
Peristiwa ini membuat masyarakat heran, walaupun Beliau akan bertarung dengan Kejabang, masih sempat-sempatnya menolong semut-semut yang kecil dan tidak berharga. Pada waktu itu, warga menanyakan untuk apa Beliau menghabiskan waktu mengurusi semut, padahal diseberang sana sudah menunggu Kejabang yang siap membunuh atau menjadikannya budak. Pertanyaan tersebut Beliau jawab bahwa setiap orang harus mencintai dan menyayangi sesama makhluk hidup, termasuk semut-semut tersebut. Begitulah cara Beliau mengajarkan pada masyarakat agar mempunyai sifat cinta kasih terhadap semua makhluk, jangankan terhadap manusia, terhadap semutpun hendaknya diperlakukan dengan kasih sayang.
Sesampai di Tebat Limau yang telah dipenuhi oleh masyarakat yang ingin menyaksikan pertarungan, telah menunggu pula Kejabang dengan segala macam senjata pusaka andalannya. Menghadapi semua itu, dengan tenang tanpa menunjukan rasa khawatir atau takut, Baharuddin menawarkan suatu cara untuk melakukan pertarungan dengan tidak perlu mengadu kekuatan fisik, melainkan cukup menebak semua ilmu kesaktian dan kedigdayaan yang dimiliki Kejabang. Dengan ketentuan apabila Baharuddin mampu menjelaskan seluruh nama senjata pusaka, mantra, atau jampi-jampi dan darimana Kejabang memperolehnya, serta ilmu apa yang dapat mengalahkan seluruh kesaktiannya, maka Baharuddinlah yang dianggap sebagai pemenang. Sebaliknya apabila tidak mampu, maka Baharuddin harus menjadi budak Kejabang seumur hidup.
Tawaran Baharuddin tersebut, sudah tentu diterima oleh Kejabang, karena dipikirnya tidak mungkin Baharuddin bisa menebak semua ilmu kesaktiannya, mengingat Baharuddin selama ini tidak pernah memperlihatkan sikap jantan sebagaimana yang ditunjukkan oleh seorang laki-laki. Disamping itu tampak Baharuddin datang tanpa satupun senjata.
Setelah disepakati dan disaksikan banyak orang, lalu Baharuddin menjelaskan satu persatu ilmu kesaktian yang dimiliki Kejabang berikut penangkalnya serta asal usul seluruh ilmu yang dimilikinya. Mendengar penjelasan secara rinci tanpa ada yang ketinggalan sedikitpun, Kejabang berpendapat bahwa ilmu yang dimiliki oleh Baharuddin jauh lebih tinggi dari ilmu kasaktian yang dimilikinya adalah tidak mungkin mengalahkan Beliau. Oleh karena itu, Kejabang mengaku kalah dan menyatakan bersedia menjadi budak bagi Baharuddin.
Kendati telah memenangkan pertarungan, Baharuddin tidak menghendaki Kejabang menjadi budak bagi dirinya, melainkan beliau hanya meminta agar seluruh budak-budak yang berada dibawah kekuasaan Kejabang supaya dibebaskan dan diberlakukan sebagai anggota keluarga dan tetap berada dibawah naungan Kejabang. Keputusan dan Kebijakan yang diberikan oleh Baharuddin itu, telah membuka mata hati Kejabang dan masyarakat sekitar serta menyadarkan mereka bahwa sikap memperbudak sesama manusia dan kebiasaan melakukan pertarungan itu bukanlah suatu sikap yang baik. (Dimasa selanjutnya Puyang Kejabang ditunjuk sebagai anggota Perwali 4 di dalam Lembaga adat Lapik 4 Merdike 2).
Sejak peristiwa itu, nama Baharuddin semakin melegenda dikalangan masyarakat Besemah, betapa Beliau dalam waktu yang sangat singkat berhasil menaklukan tokoh yang sangat ditakuti di seluruh tanah Besemah, dan didalam kemenangan tersebut, Beliau tidak menghina lawan yang dikalahkan, justru mengangkatnya dalam suatu tempat terhormat.
Selanjutnya, Baharuddin lebih leluasa mengetahui seluk beluk masyarakat Besemah serta kepercayaan yang dianut oleh mereka karena kehadiran Beliau di seluruh pelosok Besemah disambut baik dan penuh hormat. Kendati demikian, Beliau tidak begitu saja gegabah mengatur masyarakat secara nyata atau menyebarkan ajaran agama Islam, karena akan timbul kesan bahwa Beliau hendak merubah kepercayaan yang telah mereka anut secara turun temurun. Akhirnya melalui dialog-dialog, Beliau faham bahwa kunci dari kepercayaan yang dianut oleh masyarakat adalah terletak di puncak Gunung Dempo, yang dianggap tempat bersemayam roh-roh nenek moyang mereka dan ditabukan bagi siapa saja untuk mendaki ke puncak Gunung Dempo.
Untuk menghapus kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, dan merubahnya dengan cara yang arif dan bijak dengan kesan tidak menghina kepercayaan masyarakat, lalu Baharuddin atau Puyang Awak memberitahukan pada masyarakat bahwa Beliau bermaksud mendaki ke Puncak Gunung Dempo untuk dapat bertemu dengan roh-roh nenek moyang yang bersemayam disitu, seolah-olah Beliau percaya kalau roh-roh tersebut berkumpul disitu. Rencana Puyang Awak sudah tentu menimbulkan kegemparan, karena mereka berpendapat bahwa Puyang Awak akan hilang dan tidak mungkin dapat kembali sebagai manusia karena dikutuk roh-roh nenek moyang tersebut.
Dari Desa Perdipe, Gunung Dempo tersebut memang dapat terlihat dengan jelas, sehingga Beliau dapat mengamati lewat daerah mana saja agar perjalanan menuju puncak tidak tersesat. Waktu itu, daerah sekitar Gunung memang belum terjamah oleh tangan manusia, serta masih banyak berkeliaran binatang buas. Tanpa ragu Puyang awak langsung mendaki ke puncak gunung dan memerlukan waktu beberapa hari. Setelah tiba di puncak, Beliau mendirikan pondok tempat beristirahat dan berdiam disitu sendirian untuk waktu beberapa lama.
Dipinggir telaga, ada sebuah batu besar datar yang menjorok ke telaga, arahnya persis menghadap ke kiblat. Batu tersebut dijadikan oleh Puyang Awak untuk menjalankan ibadah shalat dan mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Sambil memohon petunjuk bagaimana meng-islamkan masyarakat Besemah secara baik tanpa penolakan dari masyarakat setempat. Selama 40 hari Beliau berkhalwat di Puncak Gunung Dempo, dan setelah mendapat petunjuk yang terang dan rumusan yang benar, Beliau turun kembali ke Desa Perdipe dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. (sampai saai ini, batu datar yang menjorok diatas telaga di Puncak Gunung Dempo tempat Puyang Awak melakukan ibadah shalat dan pondok tempat Beliau beristirahat, dibuat seperti makam dan sering diziarahi orang).
Kedatangan Puyang Awak dari Puncak Gunung Dempo tanpa kurang suatu apapun, menimbulkan keheranan masyarakat Besemah. Dalam kesempatan yang baik, Beliau menyampaikan suatu pesan kepada masyarakat Besemah, yaitu ada suatu pesan yang diperolehnya sewaktu bertemu dengan roh-roh nenek moyang suku Besemah, yang bunyinya : Bahwa diantara seluruh Puyang yang berada dipuncak Gunung Dempo, ada satu Puyang yang kedudukannya lebih tinggi dari Puyang-Puyang lainnya. Kekuasaan Puyang yang satu itu sangat besar dan semua puyang tunduk pada-NYA. Bahkan seluruh jagat raya dan seluruh isinya adalah diciptakan seluruhnya oleh Puyang yang satu itu. DIA disebut PUYANG NJADIKA JAGAT (ALLAH SWT).
Puyang Njadikah Jagat ini menyampaikan pesan kepada seluruh manusia sebagai berikut :
PESAN PUYANG NJADIKA JAGAT :
– Bekelaway bemuanai, seanak bujang seanak gadis, apit juray, tunggal juray.
– Apit dusun, apit rurah, seruguk sekurung kampung, sejagat sebale raye, negakkah Ganti Nga Tungguan.
– Lughus tali belandar papan.
– Janji nunggu kate betaroh.
– Utang mbayar piutang tanggapi.
– Ndepat mbalik, rame beghageh.
– Ndek ughang ndek ughang, ndek dighi ndek dighi.
– Berangkekalah pedang, siangilah jalan ke ayik.
– Pacak ulak di ulak’i pacak jangan dijangani.
– Seati serupukan sepincang sepejalanan.
– Serasan sekundang seghase sepenanggungan.
– Seghepat mbak li sukat seghincung mbak li tabung.
– Mbak li uwi pengarang rakit, timbul tenggelam same same.
– Ndek kecik nurut, ndek besak ngalah.
– Ndek mude ngikut, ndek tue ngipat.
– Kecik besak lanang betine, iluk jahat same meghase.
– Ndak calak, ndak beganti, ndak melawan bekenceghan.


Sumber :  http://www.pagaralam-online.com/penyebar-islam-di-besemah-siapakah-puyang-awak/
April 30, 2018

Arti Lambang Kota Pagaralam - Sumatra Selatan

Lambang Kota Pagaralam




Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pagar Alam Nomor 09 Tahun 2003 Tanggal 14 Agustus 2003 tentang Lambang Daerah Kota Pagar Alam berbentuk perisai bergaris kuning emas dan dasarnya merah putih yang melambangkan pemancangan pertama merah putih di Daerah Pagar Alam, yang didalamnya terdapat lukisan-lukisan yang bermakna sebagai berikut :
  1. Padi berjumlah 17 (Tujuh Belas) butir melambangkan Tanggal 17 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia;
  2. Bambu runcing 2 (Dua) buah setiap bambu terdiri dari 4 ruas sehingga berjumlah 8 ruas, melambangkan bulan 8 (Bulan Agustus), bulan Proklamsi Kemerdekaan Republik Indonesia
  3. 5 (Lima) tandan buah kopi, setiap tandan terdiri dari 9 (Sembilan) buah biji, sehingga berjumlah 45 (Empat Puluh Lima) buah biji, melambangkan Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia;
  4. Bambu runcing melambangkan Kota Perjuangan;
  5. Pita warna merah putih pengikat bambu runcing melambangkan eratnya ikatan Persatuan dan Kesatuan rakyat dalam melawan penjajah.
  6. Pita bertuliskan “BESEMAH KOTA PERJUANGAN” terdiri dari 21 (Dua Puluh Satu) huruf melambangkan tanggal berdirinya Kota Pagar Alam sekaligus motto yang mengandung pengertian bahwa perjuangan masyarakat besemah belum selesai dan akan terus berlanjut;
  7. Bangunan gedung berjumlah 6 (Enam) buah, melambangkan bulan 6 (bulan Juni) bulan berdirinya Kota Pagar Alam;
  8. Atap rumah adat besemah berwarna hitam berjumlah 2001, melambangkan Tahun berdirinya Kota Pagar Alam, Penulisan kata “ Pagar Alam” terdiri dari dua suku kata (Pagar Alam);
  9. Tulisan Pagar Alam pada atap rumah adat besemah berwarna putih;
  10. Gunung Dempo merupakan ciri khas geografi Daerah Kota Pagar Alam;
  11. Bangunan Gedung dilembah Gunung Dempo melambangkan Kota;
  12. Latar belakang Gunung Dempo berwarna biru muda, melambangkan daerah perkebunan/pertanian dimana mayoritas masyarakatnya petani;
  13. Petak Warna putih, melambangkan cita-cita luhur dan kesucian;
  14. Petak Warna hijau daun, melambangkan kesuburan tanah.



Sumber : http://www.pagaralamkota.go.id/home/index.php/profil-daerah/arti-lambang


April 30, 2018

Profil Singkat Kota Pagaralam (Sumatra Selatan)

Kota Pagaralam


Kota Pagar Alam adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Selatan yang dibentuk berdasarkan Undang–Undang Nomor 8 Tahun 2001 (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4115), sebelumnya kota Pagar Alam termasuk kota administratif dalam lingkungan Kabupaten Lahat. Kota ini memiliki luas sekitar 633,66 km² dengan jumlah penduduk 126.181 jiwa dan memiliki kepadatan penduduk sekitar 199 jiwa/km².
Kota ini berjarak sekitar 298 km dari kota Palembang dan juga berjarak sekitar 60 km di sebelah barat daya Kabupaten Lahat. Kota ini sekarang dipimpin oleh dr. Hj. Ida Fitriati, M.Kes., dan Novirzah Djazuli, SE Sebagai wali kota dan wakil wali kota Pagar Alam periode 2013-2018.

Peta Lokasi Kota Pagaralam

Demografi (Data 2015)

Nama kecamatanLuas wilayahJumlah pendudukKepadatan penduduk
Dempo Selatan239,08 km²11.734 jiwa54 jiwa/km²
Dempo Tengah151,96 km²12.850 jiwa74 jiwa/km²
Dempo Utara123,98 km²20.490 jiwa165jiwa/km²
Pagar Alam Selatan63,17 km²47.976 jiwa759 jiwa/km²
Pagar Alam Utara55,47 km²40.812 jiwa736 jiwa/km²
Kota Pagar Alam633,66 km²133.862 jiwa211 jiwa/km²

Geografis

Batas wilayah

Berikut ini adalah perbatasan wilayahnya dengan kabupaten lainnya:
Utarakabupaten Lahat
Selatankabupaten Kaur
Baratkabupaten Lahat dan kabupaten Empat Lawang
Timurkabupaten Lahat dan kabupaten Muara Enim

Keadaan tanah

Sebagian besar keadaan tanah di kota Pagar Alam berasal dari jenis latosol dan andosol dengan bentuk permukaan bergelombang sampai berbukit. Jika dilihat dari kelasnya, tanah di daerah ini pada umumnya adalah tanah yang mengandung kesuburan yang tinggi (kelas I).
Hal ini terbukti dengan daerah kota Pagar Alam yang merupakan penghasil sayur-mayur, buah-buahan, dan merupakan salah satu subterminal agribisnis (STA) di provinsi Sumatera Selatan.

Produk Dalam Daerah

  1. ARPA (Air Pagar Alam) diproduksi oleh PT. Ayek Besemah, merupakan air minum dalam kemasan dan murni dari mata air Gunung Dempo.

Potensi wisata

Kota Pagar Alam mempunyai potensi wisata yang sangat kaya, selain wisata alam, terdapat juga lokasi-lokasi purbakala. Di kota Pagar Alam ini terdapat sedikitnya 33 air terjun dan 26 situs menhir yang sudah tercatat. Objek wisata yang terdapat di kota ini dan belum semuanya dikembangkan adalah:
  • Batu Gong
  • Perkebunan teh Lereng Dempo
  • Sungai Lematang Indah
  • Air Terjun:
    • Curup Embun
    • Curup Mangkok
    • Curup Tujuh Kenangan
  • Arca Manusia Purba (Megalithikum)
  • Ribuan situs megalit
  • Danau:
    • Tebat Gheban
    • Tebat Libagh (Lebar)
  • Rimba Candi
  • Hutan Anggrek

Perkebunan Teh di Lereng Gunung Dempo

Penduduk

Kota Pagar Alam selalau mengalami kenaikan jumlah penduduk yang sangat drastis yang awalnya pada tahun 2000 jumlah penduduknya hanya 112.025 jiwa jumlah itu pun pada sepuluh tahun kemudian berpopulasi lebih kurang 126.363 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,22%. Dikarenakan adanya faktor Transmigrasi yang ingin menetap di kota Pagar Alam.
Penduduk kota Pagar Alam terdiri dari berbagai suku bangsa. Selain penduduk asli (suku Besemah), ada banyak juga suku Jawa, suku Minang, suku Batak, Orang Peranakan, Arab-Indonesia, dan India-Indonesia.
Tahun200020012002200320042005200820102015
Jumlah penduduk112.025Green Arrow Up.svg 112.934Green Arrow Up.svg 113.435Green Arrow Up.svg 113.679Green Arrow Up.svg 113.789Green Arrow Up.svg 114.609Green Arrow Up.svg 116.316Green Arrow Up.svg 126.363Green Arrow Up.svg 133.862
Sumber: Data Statistik Indonesia

Perguruan Tinggi

Swasta

  1. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT)
  2. Sekolah Tinggi Keguruan & Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Pagar Alam
  3. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Lembah Dempo Pagar Alam

Negeri

Untuk sementara, tidak ada

Tokoh/Putra Daerah

  1. Komjen Pol. (Purn) Susno Duadji mantan Kabareskrim Mabes Polri & Kapolda Jawa Barat.
  2. Drs. H. Mukti Sulaiman sekarang menjabat sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan.
  3. Drs. H. Sukadi Duadji, M.M mantan Wakil Bupati Kabupaten Lahat periode 2008-2013. Merupakan kakak kandung Susno Duadji.
  4. H. Asfan Fikri Sanaf' mantan Direktur Bank Sumselbabel.
  5. Letjen TNI. (Pur) Burhanudin Amin Mantan Pangkostrad.

Bandara Atung Bungsu

Bandara ini terletak di wilayah Kelurahan Atung Bungsu, Kecamatan Dempo Selatan. Bandara ini telah melayani penerbangan tujuan Pagaralam - Palembang (sebaliknya), Pagaralam - Bengkulu (sebaliknya), dan Pagaralam - Jakarta (sebaliknya) dengan ditopang dua maskapai yang tesmi mengudara yakni Susi Air untuk rute Pagaralam - Palembang (sebaliknya) dan Pagaralam - Bengkulu (sebaliknya) serta Aviastar Untuk Rute Pagaralam - Jakarta dan sebaliknya. Untuk pemesanan tiket pesawat harus dipesan di Dinas Dishupkominfo Kota Pagar Alam.

Bandara Atung Bungsu

Referensi

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pagar_Alam