Make A Delicious Ones

Food, Love and Passion

Breaking News

Showing posts with label Sumatra Selatan. Show all posts
Showing posts with label Sumatra Selatan. Show all posts

Thursday, November 15, 2018

November 15, 2018

Jalan - Jalan Yuk! : Kebun Teh Gunung Dempo, Pagaralam

Kebun Teh Gunung Dempo, Pagaralam


Gunung Dempo merupakan puncak tertinggi di wilayah Sumatera Selatan. Terletak di Kabupaten Pagaralam, yang berjarak sekitar 300 km dari pusat Kota Palembang, atau membutuhkan waktu sekitar 8 jam perjalanan darat, Gunung Dempo menawarkan panorama pemandangan yang indah. Hamparan ladang petani dan hijaunya kebun teh menjadikan Gunung Dempo layaknya bidadari bagi pariwisata Sumatera Selatan.
Dari kejauhan, hamparan hijau kebun teh yang berada di kaki Gunung Dempo sesekali tertutup kabut. Menuju ke lokasi menggunakan akses jalan utama, menghabiskan waktu hanya sekitar 15 menit. Jalan yang berkelok dan terjal tersebut bisa dilalui oleh kendaran roda dua maupun mobil. Pendopo besar menandai puncak kebun teh, dari tempat ini pengunjung bisa melihat Kabupaten Pagaralam dari kejauhan dan melihat kebun teh dari dekat.


Kebun Teh Pagaralam sendiri berada pada ketinggian sekitar 1520 meter di atas permukaan laut. Kebun teh ini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VII. PTPN VII merupakan perusahaan BUMN yang unit kerjanya terfokus pada agribisnis dan perkebunan. Selain teh, perusahaan BUMN ini juga mengelola perkebunan lain seperti tebu, karet, dan kelapa sawit.
Menurut data yang dilansir website PTPN VII, Kebun Teh Pagaralam memiliki luas puluhan ribu hektar. Volume penjualannya mencapai ribuan ton per tahun, yang trendnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Setengah hasil Kebun Teh Pagaralam digunakan untuk kebutuhan dalam negeri, sebagian lagi diekspor ke luar negeri. Selain terkenal dengan kopi robusta, Pagaralam juga salah satu penghasil teh unggulan di Indonesia.


Memasuki akhir pekan, Kawasan Puncak Pagaralam ini akan diramaikan oleh para wisatawan, baik yang datang dari wilayah Sumatera Selatan, maupun dari luar daerah. Apalagi di sekitar kaki Gunung Dempo banyak terdapat fasilitas penginapan berupa rumah singgah dan villa yang harga sewanya relatif terjangkau.
Selain itu, di kawasan ini juga ditemui penjual oleh-oleh khas Pagaralam, seperti kopi, teh, hingga figura senjata kudok. Mengunjungi Kebun Teh Pagaralam merupakan salah satu aktivitas liburan yang menyenangkan bersama keluarga. Selain bisa melihat pemandangan yang indah, suasana di kawasan ini juga sangat hening dan udaranya masih sangat sejuk.




November 15, 2018

Jalan - Jalan Yuk! : Tikungan Kekinian Kebun Teh Gunung Dempo, Pagaralam


Tikungan Kekinian Kebun Teh Gunung Dempo, Pagaralam



Tikungan Kekinian berlokasi di kawasan perkebunan Teh Kampung II, jalan menuju objek wisata Tugu Rimau, juga menjadi magnet baru wisatawan, yang berkunjung ke Pagaralam. Di pinggiran jalan memiliki kelokan tajam, wisatawan kerap menyempatkan waktu, untuk sekedar berfoto selfi dan mengabadikan momen berharga.



November 15, 2018

Sejarah : Masjid Agung Pagaralam, Sumatra Selatan

Masjid Agung Pagaralam

Di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Sholat berjamaah bisa dilakukan di masjid-masjid terdekat. Ada beberapa masjid ternama di Kota Pagar Alam seperti Masjid Agung Pagar Alam, Masjid Baiturrahman, dan Masjid Al-ikhlas. 

Yang pertama adalah Masjid Agung Pagar Alam. Masjid tersebut dibuat pada tahun 2000. Sesuai data dari Kementerian Agama masjid tersebut merupakan Masjid Agung. Jumlah daya tampung masjid ini sebanyak 150 - 200 orang. Masjid Agung Pagar Alam ini bisa ditemukan di Jl. Kombes H.Umar, Bangun Jaya.




Monday, April 30, 2018

April 30, 2018

Sejarah : Suku BESEMAH - Pagaralam (Sumatra Selatan)


Pakaian Adat Suku Besemah - Pagaralam


SUKU BESEMAH SELAYANG PANDANG

  1. Letak Geografis dan Alam

Daerah Besemah terletak di kaki Bukit Barisan. Daerahnya meluas dari lereng-lereng Gunung Dempo ke selatan sampai ke Ulu sungai Ogan ( Kisam ), ke barat sampai Ulu alas ( Besemah Ulu Alas ), ke utara sampai ke Ulu Musi Besemah ( Ayik Keghuh ),dan ke arah timur sampai Bukit Pancing, Pada masa Lampik Empat Merdike Due, daerah Besemah sudah dibagi atas Besemah Libagh, Besemah Ulu Lintang, Besemah Ulu Manak, dan Besemah Ayik Keghuh. Meskipun nama-namanya berbeda, namun penduduknya mempuyai hubungan atau ikatan kekerabatan yang kuat ( genealogis ) Daerah Besemah merupakan dataran tinggi dan pegunungan yang bergelombang. Ketinggian wilayah sangat bervariasi, dari ketinggian sekitar 441 meter dpl ( diatas permukaan laut ) sampai dengan 3.000-an meter lebih dpl. Daerah dataran tinggi 441 meter samapi dengan 1.000 meter dpl, sedangkan daerah berbukit dan bergunung ( bagian pegunungan ) berada pada ketinggian di atas 1.000 meter hingga 3.000 meter lebih dpl. Titik tertinggi adalah 3.173 meter dpl, yaitu puncak Gunung Dempo ( Bos, 1947:35 ), yang sekaligus merupakan gunung tertinggi di Sumatera Selatan. Daerah Gunung Dempo dengan lereng-lerengnya pada sisi timur dan tenggara mencakup 58,19 % dari luas wilayah Kota Pagar Alam sekarang yang 633,66 hektar ( Bappeda, 2003 : 7-12 ).
Bukit dan gunung yang terpenting di wilayah Kota Pagar Alam, antara lain adalah Gunung Dempo ( 3.173 m), Gunung Patah, ( 2.817 m ), Bukit Raje Mendare, Bukit Candi, Bukit Ambung Beras, Bukit Tungku Tige ( Tungku Tiga ), dan Bukit Lentur. Bagian wilayah kota yang marupakan dataran tinggi, terutama bagian timur, umumnya disebut “ Tengah Padang”. Daerah pusat Kota Pagar Alam yang meliputi kecamatan Pagaralam Utara dan Kecamatan Pagaralam Selatan atau wilayah bekas Marga Sumbay Besak suku alundue terletak pada ketinggian rata-rata 600 samapai 3.173 meter dpl.

Gunung Dempo di Pagaralam

Daerah Besemah dialiri sejumlah sungai. Satu diantaranya adalah sungai Besemah ( Ayik Besemah ). Pada zaman dahulu, keadaan alamnya sangat sulit dilewati, menyebabkan daerah ini jarang didatangi oleh Sultan Palembang atau wakil-wakilnya ( raban dan jenang ). Kondisi alam yang cukup berat ini menyebabkan sulitnya pasukan Belanda melakukan ekspedisi-ekspedisi militer untuk memadamkan gerakan pelawanan orang Besemah. Mengenai keadaan alam Besemah pada permulaan abad ke-19, menurut pendatang Belanda dari karangan van Rees tahun 1870 melukiskan.
Sampai dengan tahun 1866 ada rakyat yang mendiami perbukitan yang sulit di datangi di sebalah tenggara Bukit Barisan yang tidak pernah menundukkan kepalanya kepada tetangga walaupun sukunya lebih besar. Walau hanya terdiri dari beberapa suku saja, mereka menanamkan dirinya rakyat bebas merdeka. Dari barat daya sulit ditembus oleh orang-orang Bengkulu, dari tiga sudut lain dipagari oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi dan ditutupi oleh hutan rimba yang lebat dan luas di daerah pedalaman Palembang.

  1. Asal-usul, Kepercayaan, dan Mata Pencarian

Sampai sekarang masih belum jelas dari mana sebenarnya asal-usul suku Besemah. Apakah teori-teori tentang perpindahan penduduk yang diikuti sekarang berlaku juga bagi suku Besemah, masih diliputi kabut rahasia. Namun yang jelas, jauh ( berabad-abad ) sebelum hadirnya mitos Atung Bungsu, di Tanah Besemah, di lereng Gunung Dempo dan daerah sekitarnya, telah ada masyarakat yang memiliki kebudayaan ( tradisi megalitik ) sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu dan bukti-bukti budaya megalitik di Tanah Besemah itu sampai sekarang masih ada. Tetapi permasalahannya, apakah jeme Besemah sekarang ini adalah keturunan dari pendukung budaya megalitik tersebut ?
Menurut Ahad, juraytue puyang Kedung Gunung Samat di Rempasay bahwa sebelum kedatangan Atung Bungsu ke daerah di sekitar Gunung Dempo, telah datang bergelombang dan berturut-turut suku-suku atau bangsa-bangsa itu adalah jeme Kam-kam, jeme Nik dan jeme Nuk, jeme Ducung, jeme Aking,dan jeme Rebakau, jeme Sebakas ; jeme Rejang dan jeme Berige. Pada masa tanah di sekitar Gunung Dempo diduduki oleh jeme Rejang dan jeme Berige, datanglah Atung Bungsu.
Dari cerita orang tua (jeme- jeme tue ), secara fisik jeme Nik dan jeme Nuk memiliki badan yang tinggi besar, hidung mancung, dan kulit putih kemerahan. Jeme Ducung perawakan tubuknya kecil, pendek tetapi memiliki kelincahan. Jeme Aking juga tinggi besar, kekar, kulitnya merah keputihan, dan memiliki pendirian yang keras. Jeme Rebakau berperawakan sedang, dan jeme Sebakas postur tubuhnya seperti orang-orang Melayu sekarang. Demikian pula jeme Rejang dan jeme Berige tidak jauh beda dengan jeme Sebakas. Ahad mengatakan bahwa orang Besemah sekarang diperkirakan merupakan keturunan dari berbagai suku-suku diatas, namun keturunan yang paling dominant berasal dari puyang Atung Bungsu.
Menurut cerita rakyat di Besemah, Atung Bungsu datang ke Besemah pada saat tempat ini sudah di diami oleh suku Rejang dan Berige. Ia sampai berdialog dengan salah seorang pimpinan suku Rejang yang bernama Ratu Rambut Selaku dari Lubuk Umbay yang masing-masing merasa berhak atas Tanah Besemah. Mulai sumpah, akhirnya Ratu Rambut Selake mengakui bahwa yang lebih berhak adalah Atung Bungsu. Ucapan Atung Bungsu itu kira-kira sebagai berikut, “Jikalau bulak, jikalau buhung, tanah ini aku punye, binaselah anak cucungku”. 
Sedangkan M.Zoem Derahap, yang dijuluki Pak Gasak, dusun Negeri Kaye, Tanjung Sakti, bercerita bahwa rakyat Lubuk Umbay yang dipimpin Ratu Rambut Selake setelah mengakui Tanah Besemah milik Atung Bungsu mereka lalu diberi kedudukan sebagai Sumbay dalam Jagat Besemah, tetapi tidak masuk dalam system pemerintahan Lampik Empat Merdike Due. Sumbay mereka itu dinamakan Sumbay Lubuk Umbay.

Sebagai masyarakat Besemah percaya bahwa kedatangan Atung Bungsu itu bersama Diwe Semidang (Puyang Serunting Sakti) dan Diwe Gumay. Diwe Gumay menetap di Bukit Seguntang Palembang, sedangkan Diwe Semidang pada mulanya juga tinggal di Bukit Seguntang, lalu pagi menjelajah sembilan batanghari sampai akhirnya menetap di suatu tempat yang disebut Padang Langgar (Pelangkeniday). Keturunan kesebelas dari Diwe Gumay, yaitu Puyang Panjang sebagai Juray Kebalik-an baru menetap dibagian ilir Tanah Besemah, yaitu di Balai Buntar ( Lubuksempang).
Selain cerita rakyat yang tetap hidup dan berkembang di Besemah, mengenai asal- usul suku Besemah, seorang pengelana bangsa Inggris, E.Presgrave, yang mengunjungi daerah Besemah, memberikan cerita dalam The Journal Of The Indian Archipelago (Harian dari Kumpulan India) sebagai berikut (Gramberg, 1867:351-352).
“….., sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan dengan banyak pengikut, telah meninggalkan Majapahit dan mendarat di Pantai Timur Sumatera. Adik perempuannya menempatkan dirinya di Palembang, dimana ia dalam waktu singkat telah menjadi ratu yang terpandang ; kakaknya (Atung Bungsu), yang lebih jauh masuk ke pedalaman, menetapkan diri di Lembah dari Passumah yang subur. Dengan demikian tanah ini diduduki dan dihuni para pendatang ini.

Mitos atau cerita mengenai Puyang Atung Bungsu terdapat beberapa versi yang diantara lain dapat kita baca dalam “Soerat Assal Oerang Mendjadikan Djagat Passumah” dengan kode ML 608 (BR.157.VIII) dan kode ML 234 yang ada di perpustakaan Museum Nasional, Jakarta. Sumber dengan kode ML 234 ditulis oleh Muhammad Arif dari dusun Benuakeling tanggal 28 November 1898 yang disalinnya dari suatu kitab orang dusun Tanahpilih, Marga Sumbay Ulu Lurah Benuakeling, yaitu Pangeran Samadil. Sumber data ini, sebelumnya disalin kembali oleh Muhammad Tayib yang pernah magang di kantor Kontrolir dari Bandar tanggal 25 Januari 1889. Jadi, sumber ini sudah disalin beberapa kali. Sumber aslinya dalam bentuk huruf Arab Gundul (Surat Melayu) yang kemudian ditulis dalam bentuk huruf latin.
Adalagi sumber yang ditulis oleh A. Grozali Mengkerin, juga dari dusun Benuakeling yang berjudul “Benuakeling Puting Jagat Besemah”. Selanjutnya ada lagi versi lain, misalnya yang ditulis oleh Musa dari dusun Muara Siban, M.S. Panggarbesi, Abdullah (Bedul) dusun Gelungsakti, dan beberapa tulisan lainnya. Cerita tentang Puyang Atung Bungsu ini banyak dibumbui dengan cerita-cerita yang berbau mistik, irrasional dan sulit diterima oleh akal sehat. Pada umumnya cerita tentang Atung Bungsu ini terdapat persamaan, bahwa tokoh ini berasal dari Kerajaan Majapahit dan dua orang anaknya, Bujang Jawe (Bergelar Puyang Diwate) dan Riye Rekian. Atung Bungsu dan keturunannya dianggap genre yang menjadikan “Jagat Besemah”. Konon, menurut cerita, kata “Besemah” berasal dari cerita istri Atung Bungsu yang Bernama Putri Senantan Buwih (anak Ratu Benuakeling) yang ketika sedang mencuci beras di sungai, bakul berasnya dimasuki ikan semah (ML, 608:5).
Salah seorang keturunan Bujang Jawe (Puyang Diwate) bernama puyang Mandulake (Mandulike) yang berputra lima orang, yaitu (1) Puyang Sake Semenung atau Semanung (menjadikan anak keturunan Pagargunung), (2) Puyang Sake Sepadi, melalui anaknya Singe Bekkurung yang bertempat tinggal di dusun Benuakeling menjadikan Marga Tanjung Ghaye, Sumbay Ulu Lurah, Sumbay Besak, Sumbay Mangku Anum, dan Sumbay Penjalang, (3) Puyang Sake Seratus menjadikan anak keturunan Bayuran (Kisam), (4) Puyang Sake Seketi (mati bujang, tidak ada keturunan). Puyang Singe Bekurung mempunya anak Puyang Pedane. Puyang Pedane beranak Puyang Tanjung Lematang. Puyang ini kemudian beranak tiga orang, yaitu Puyang Riye Lisi, Riye Ugian, dan Riye Lasam. Puyang Riye Lisi pindah ke Kikim menjadikan anak Merge Penjalang di Besemah Libagh, dan Puyang Riye Lasam menjadikan keturunan Sumbay Ulu Lurah.
Tentang asal-usul suku Besemah, versi lalin menceritakan bahwa ada seorang “Wali Tua” dari salah satu anggota keluarga Kerajaan Majapahit berangkat ke Palembang, kemudian kawin dengan Putri (anak) Raja Iskandar yang menjadi Raja Palembang. Salah satu keturunan inilah yang bernama Atung Bungsu yang pada suatu ketika berperahu menyelusuri sungai Lematang dan akhirnya sampai di sungai yang belum diketahui namanya, tempatnya menetap dinamakan Benuakeling . Di sungai itu, Atung Bungsu melihat banyak ikan semah yang mengerumuni bekas-bekas makanan yang dibuang ke sungai. Atung Bungsu menceritakan kepada istrinya bahwa di sungai banyak ikan semah-nya. Konon katanya, nama ikan inilah yang menjadi cikal-bakal asal-usul nama “Besemah” yang artinya “sungai yang ada ikan seah-nya”. Sungai itulah yang sampai sekarang dikenal dengan nama Ayik Besemah diantara dusung Karanganyar dengan dusun Tebatgunung Baru sekarang. Jadi, ada beberapa versi cerita mengenai ikan semah sebagai asal nama Besemah, di antaranya versi Atung Bungsu dan versi Senantan Buih.




Sumber : http://www.pagaralamkota.go.id/home/index.php/profil-daerah/sejarah-besemah
April 30, 2018

Arti Lambang Kota Pagaralam - Sumatra Selatan

Lambang Kota Pagaralam




Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pagar Alam Nomor 09 Tahun 2003 Tanggal 14 Agustus 2003 tentang Lambang Daerah Kota Pagar Alam berbentuk perisai bergaris kuning emas dan dasarnya merah putih yang melambangkan pemancangan pertama merah putih di Daerah Pagar Alam, yang didalamnya terdapat lukisan-lukisan yang bermakna sebagai berikut :
  1. Padi berjumlah 17 (Tujuh Belas) butir melambangkan Tanggal 17 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia;
  2. Bambu runcing 2 (Dua) buah setiap bambu terdiri dari 4 ruas sehingga berjumlah 8 ruas, melambangkan bulan 8 (Bulan Agustus), bulan Proklamsi Kemerdekaan Republik Indonesia
  3. 5 (Lima) tandan buah kopi, setiap tandan terdiri dari 9 (Sembilan) buah biji, sehingga berjumlah 45 (Empat Puluh Lima) buah biji, melambangkan Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia;
  4. Bambu runcing melambangkan Kota Perjuangan;
  5. Pita warna merah putih pengikat bambu runcing melambangkan eratnya ikatan Persatuan dan Kesatuan rakyat dalam melawan penjajah.
  6. Pita bertuliskan “BESEMAH KOTA PERJUANGAN” terdiri dari 21 (Dua Puluh Satu) huruf melambangkan tanggal berdirinya Kota Pagar Alam sekaligus motto yang mengandung pengertian bahwa perjuangan masyarakat besemah belum selesai dan akan terus berlanjut;
  7. Bangunan gedung berjumlah 6 (Enam) buah, melambangkan bulan 6 (bulan Juni) bulan berdirinya Kota Pagar Alam;
  8. Atap rumah adat besemah berwarna hitam berjumlah 2001, melambangkan Tahun berdirinya Kota Pagar Alam, Penulisan kata “ Pagar Alam” terdiri dari dua suku kata (Pagar Alam);
  9. Tulisan Pagar Alam pada atap rumah adat besemah berwarna putih;
  10. Gunung Dempo merupakan ciri khas geografi Daerah Kota Pagar Alam;
  11. Bangunan Gedung dilembah Gunung Dempo melambangkan Kota;
  12. Latar belakang Gunung Dempo berwarna biru muda, melambangkan daerah perkebunan/pertanian dimana mayoritas masyarakatnya petani;
  13. Petak Warna putih, melambangkan cita-cita luhur dan kesucian;
  14. Petak Warna hijau daun, melambangkan kesuburan tanah.



Sumber : http://www.pagaralamkota.go.id/home/index.php/profil-daerah/arti-lambang


April 30, 2018

Profil Singkat Kota Pagaralam (Sumatra Selatan)

Kota Pagaralam


Kota Pagar Alam adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Selatan yang dibentuk berdasarkan Undang–Undang Nomor 8 Tahun 2001 (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4115), sebelumnya kota Pagar Alam termasuk kota administratif dalam lingkungan Kabupaten Lahat. Kota ini memiliki luas sekitar 633,66 km² dengan jumlah penduduk 126.181 jiwa dan memiliki kepadatan penduduk sekitar 199 jiwa/km².
Kota ini berjarak sekitar 298 km dari kota Palembang dan juga berjarak sekitar 60 km di sebelah barat daya Kabupaten Lahat. Kota ini sekarang dipimpin oleh dr. Hj. Ida Fitriati, M.Kes., dan Novirzah Djazuli, SE Sebagai wali kota dan wakil wali kota Pagar Alam periode 2013-2018.

Peta Lokasi Kota Pagaralam

Demografi (Data 2015)

Nama kecamatanLuas wilayahJumlah pendudukKepadatan penduduk
Dempo Selatan239,08 km²11.734 jiwa54 jiwa/km²
Dempo Tengah151,96 km²12.850 jiwa74 jiwa/km²
Dempo Utara123,98 km²20.490 jiwa165jiwa/km²
Pagar Alam Selatan63,17 km²47.976 jiwa759 jiwa/km²
Pagar Alam Utara55,47 km²40.812 jiwa736 jiwa/km²
Kota Pagar Alam633,66 km²133.862 jiwa211 jiwa/km²

Geografis

Batas wilayah

Berikut ini adalah perbatasan wilayahnya dengan kabupaten lainnya:
Utarakabupaten Lahat
Selatankabupaten Kaur
Baratkabupaten Lahat dan kabupaten Empat Lawang
Timurkabupaten Lahat dan kabupaten Muara Enim

Keadaan tanah

Sebagian besar keadaan tanah di kota Pagar Alam berasal dari jenis latosol dan andosol dengan bentuk permukaan bergelombang sampai berbukit. Jika dilihat dari kelasnya, tanah di daerah ini pada umumnya adalah tanah yang mengandung kesuburan yang tinggi (kelas I).
Hal ini terbukti dengan daerah kota Pagar Alam yang merupakan penghasil sayur-mayur, buah-buahan, dan merupakan salah satu subterminal agribisnis (STA) di provinsi Sumatera Selatan.

Produk Dalam Daerah

  1. ARPA (Air Pagar Alam) diproduksi oleh PT. Ayek Besemah, merupakan air minum dalam kemasan dan murni dari mata air Gunung Dempo.

Potensi wisata

Kota Pagar Alam mempunyai potensi wisata yang sangat kaya, selain wisata alam, terdapat juga lokasi-lokasi purbakala. Di kota Pagar Alam ini terdapat sedikitnya 33 air terjun dan 26 situs menhir yang sudah tercatat. Objek wisata yang terdapat di kota ini dan belum semuanya dikembangkan adalah:
  • Batu Gong
  • Perkebunan teh Lereng Dempo
  • Sungai Lematang Indah
  • Air Terjun:
    • Curup Embun
    • Curup Mangkok
    • Curup Tujuh Kenangan
  • Arca Manusia Purba (Megalithikum)
  • Ribuan situs megalit
  • Danau:
    • Tebat Gheban
    • Tebat Libagh (Lebar)
  • Rimba Candi
  • Hutan Anggrek

Perkebunan Teh di Lereng Gunung Dempo

Penduduk

Kota Pagar Alam selalau mengalami kenaikan jumlah penduduk yang sangat drastis yang awalnya pada tahun 2000 jumlah penduduknya hanya 112.025 jiwa jumlah itu pun pada sepuluh tahun kemudian berpopulasi lebih kurang 126.363 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,22%. Dikarenakan adanya faktor Transmigrasi yang ingin menetap di kota Pagar Alam.
Penduduk kota Pagar Alam terdiri dari berbagai suku bangsa. Selain penduduk asli (suku Besemah), ada banyak juga suku Jawa, suku Minang, suku Batak, Orang Peranakan, Arab-Indonesia, dan India-Indonesia.
Tahun200020012002200320042005200820102015
Jumlah penduduk112.025Green Arrow Up.svg 112.934Green Arrow Up.svg 113.435Green Arrow Up.svg 113.679Green Arrow Up.svg 113.789Green Arrow Up.svg 114.609Green Arrow Up.svg 116.316Green Arrow Up.svg 126.363Green Arrow Up.svg 133.862
Sumber: Data Statistik Indonesia

Perguruan Tinggi

Swasta

  1. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT)
  2. Sekolah Tinggi Keguruan & Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Pagar Alam
  3. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Lembah Dempo Pagar Alam

Negeri

Untuk sementara, tidak ada

Tokoh/Putra Daerah

  1. Komjen Pol. (Purn) Susno Duadji mantan Kabareskrim Mabes Polri & Kapolda Jawa Barat.
  2. Drs. H. Mukti Sulaiman sekarang menjabat sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan.
  3. Drs. H. Sukadi Duadji, M.M mantan Wakil Bupati Kabupaten Lahat periode 2008-2013. Merupakan kakak kandung Susno Duadji.
  4. H. Asfan Fikri Sanaf' mantan Direktur Bank Sumselbabel.
  5. Letjen TNI. (Pur) Burhanudin Amin Mantan Pangkostrad.

Bandara Atung Bungsu

Bandara ini terletak di wilayah Kelurahan Atung Bungsu, Kecamatan Dempo Selatan. Bandara ini telah melayani penerbangan tujuan Pagaralam - Palembang (sebaliknya), Pagaralam - Bengkulu (sebaliknya), dan Pagaralam - Jakarta (sebaliknya) dengan ditopang dua maskapai yang tesmi mengudara yakni Susi Air untuk rute Pagaralam - Palembang (sebaliknya) dan Pagaralam - Bengkulu (sebaliknya) serta Aviastar Untuk Rute Pagaralam - Jakarta dan sebaliknya. Untuk pemesanan tiket pesawat harus dipesan di Dinas Dishupkominfo Kota Pagar Alam.

Bandara Atung Bungsu

Referensi

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pagar_Alam